Hidup dan Matiku KehendakNya
“Dik, ayo makan. Ini Kakak suapin…” Suara lembutnya membuatku tersadar dari lamunanku. Aku tak menghiraukannya.
“Ayo makan. Nanti kamu sakit.” Bujuknya.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Untuk apa, Kak. Itu percuma. Aku tak ingin makan. Hidupku takkan lama lagi. Untuk apa aku makan? Aku tak ingin makan! Aku… Hanya ingin… Menghitung sisa hari-hari terakhirku…” Tetesan air mata keluar perlahan dari kelopak mataku.
“Astagfirullah… Kamu jangan bicara begitu. Kamu tidak tahu nasibmu… Semua adalah kehendakNya Dik!” Nasehatnya setiap aku mengeluh atas penyakitku ini.
“Ayo makan. Nanti kamu sakit.” Bujuknya.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Untuk apa, Kak. Itu percuma. Aku tak ingin makan. Hidupku takkan lama lagi. Untuk apa aku makan? Aku tak ingin makan! Aku… Hanya ingin… Menghitung sisa hari-hari terakhirku…” Tetesan air mata keluar perlahan dari kelopak mataku.
“Astagfirullah… Kamu jangan bicara begitu. Kamu tidak tahu nasibmu… Semua adalah kehendakNya Dik!” Nasehatnya setiap aku mengeluh atas penyakitku ini.
Ya, Aku mengidap penyakit jantung koroner. Lebih buruknya, Aku buta.
Aku hanya tinggal menghitung hari-hari terakhirku. Dan, Aku juga tak
ingin makan! Aku ingin hari yang kutunggu-tunggu datang dengan cepat.
Aku tak ingin merasakan sakit ini begitu lama. Aku ingin MAUT
menjemputku!
“Dik…” Kak Syifa memecahkan keheningan saat itu. Aku mengusapkan tanganku ke air mataku yang berhamburan.
“HIDUP dan MATImu tidak dapat kau ketahui. Semua kehendakNya. Janganlah pernah Kau berputus asa. Kau harus kuat. Apakah Kau tidak sedih meninggalkan Bunda dan Ayah? Sadar Fir, sadar!” Serunya.
“HIDUP dan MATImu tidak dapat kau ketahui. Semua kehendakNya. Janganlah pernah Kau berputus asa. Kau harus kuat. Apakah Kau tidak sedih meninggalkan Bunda dan Ayah? Sadar Fir, sadar!” Serunya.
Lagi-lagi, air mataku berhamburan. Aku tak bisa berkata apa-apa
mendengar perkataan Kak Syifa, Kakak perempuan satu-satunya yang
mengerti perasaanku.
“Ta… Ta… Tap.. I…” Ucapku dengan kesusahan. Entah mengapa dadaku terasa sesak.
“K… Ka… Kak…” Aku berusaha untuk menggenggam tangannya. Namun, Aku merasa ia semakin menjauh. Aku merasa, Ia pergi dariku. Kemana ia? Aku tak bisa melihatnya. Pandanganku gelap. Aku buta! Dadaku semakin sesak. “Asta… As… Astagfi… Rullah… Hal… Hal… Azziiiimm…”
“K… Ka… Kak…” Aku berusaha untuk menggenggam tangannya. Namun, Aku merasa ia semakin menjauh. Aku merasa, Ia pergi dariku. Kemana ia? Aku tak bisa melihatnya. Pandanganku gelap. Aku buta! Dadaku semakin sesak. “Asta… As… Astagfi… Rullah… Hal… Hal… Azziiiimm…”
…
“Astagfirullahh…!” Aku terbangun dari tidurku. Kupegang dadaku. Aku
bukan pengidap penyakit jantung koroner! Aku tak buta! Itu hanya… Mimpi.
Mimpi yang sangat bermanfaat untukku. Walau terasa sangat sakit, namun
aku dapat menemukan makna mimpi itu. Aku tahu. HIDUP DAN MATIKU, ADALAH
KEHENDAKNYA…
Hidup-mati seseorang tidak akan ada yang tahu…
-SEKIAN-
Semoga bermanfaat…
Cerpen Karangan: Hannisa Tsabitah Aura
Nama: Hannisa Tsabitah Aura
Umur: 10 thn
Agama: Islam
Hobi: menulis.
Umur: 10 thn
Agama: Islam
Hobi: menulis.
Suka mengarang cerpen religi.



0 Komentar