KITA
Aku menyambangi kembali makam itu, berharap dapat menggali
kembali setiap kenangan yang terkubur di sana, dan menyimpan semuanya
dalam ruang kosong di hatiku. Sekali lagi kutatap nisan itu, yang
menyimpan ribuan tetes air mata yang pernah tercucur di atasnya. Ingatan
itu kembali menyergapku, menorehkan segaris luka bernama rindu, dan
menimbulkan jutaan harapan yang ternyata semu. Aku jatuh sekali lagi,
dan setelah ribuan kali aku bangkit, aku tetap terjatuh di tempat yang
sama. Mungkin ini terakhir kalinya aku begini, terjatuh dan menangis di
sini.
—
“Ultraman Gaia datang menyelamatkan bumi!!! Hyaaatt!!!” Bocah
laki-laki itu berlari-lari mengelilingi halaman rumahnya yang luas. Di
wajahnya terpasang topeng Ultraman, karakter yang sedang diperakannya
dalam permainan yang sedang berlangsung. Tangan kanannya menggenggam
sebatang tongkat sapu yang disebutnya ‘pedang’, sementara tangan kirinya
menggenggam sebuah pistol air berwarna oranye-hijau cerah.
“Kamu curang! Ultraman kan nggak pernah bawa senjata!” Seorang bocah
laki-laki gendut berteriak histeris sambil berlari kencang menghindari
tebasan ‘pedang’ dan tembakan air dari ‘Ultraman Gaia’. Kostum Spiderman
tanpa topeng yang dikenakannya sudah basah oleh keringat, sementara
wajahnya merah padam akibat kelelahan dan menahan tangis.
“Dasar cengeng! Lagian kamu kan Spiderman, kata kamu Spiderman itu
sampai kapanpun tetep yang paling jago.” Balas bocah berkostum Ultraman
setengah mengejek, lalu bersiap untuk kembali melancarkan serangan.
“Tapi kan kamu curaanggg…” Bocah berkostum Spiderman berhenti
berlari. Napasnya terengah-engah. Ia lalu terduduk di tanah dan mulai
terisak. Melihat temannya terduduk di tanah, ‘Ultraman Gaia’
menghampirinya.
“Loh, kok kamu malah nangis? Udah, udah jangan nangis lagi. Sori deh,
lain kali kalo aku jadi Ultraman aku nggak bakal bawa senjata lagi.”
“Beneran?” Bocah berkostum Spiderman bertanya dengan polosnya, lalu dibalas oleh anggukan temannya.
“Iya, bener.”
“Janji?” Bocah berkostum Spiderman mengulurkan jari kelingkingnya kepada temannya. Temannya pun melakukan hal yang sama.
“Janji!” sesaat kedua bocah itu saling mengaitkan kelingking tanda berjanji.
“Oke deh, kalo gitu kita main lagi aja.” Bocah gendut itu bangkit dan
mulai balas ‘menyerang’ sang ‘Ultraman Gaia’ dengan jurus-jurus
andalannya. Mereka pun bermain dengan riang sepanjang sore itu, begitu
asyik sampai mereka tidak menyadari kehadiran seorang gadis cilik yang
setia memperhatikan mereka sejak tadi.
—
“Aku Gaia. Ini temenku, Peter. Kita tetangga, loh!” Gaia
memperkenalkan dirinya dan temannya kepada gadis cilik di hadapan mereka
dengan bersemangat.
“Gaia?” Tanya gadis cilik itu bingung.
“Iya, namaku Gaia. Keren, kan?” Jawab Gaia sambil berpura-pura
menaikkan kerah bajunya, walaupun saat itu ia hanya mengenakan kaus
oblong berwarna kuning.
“Kok nama kamu kayak nama Ultraman?” Tanya gadis itu lagi.
“Hehehe… Bagus, dong. Berarti aku kan kayak superhero. Nanti kalo
kamu dalem kesulitan, aku pasti bakal bantuin kamu.” Ujar Gaia sambil
menepuk-nepuk dadanya.
“Eh jangan percaya sama dia, lagi! Kemaren aja aku digebuk pake
tongkat kayu waktu main pahlawan-pahlawanan sama dia. Gimana caranya dia
nolongin kamu coba, kalo waktu main aja galak begitu.” Sahut Peter
setengah mengadu. Gadis itu tersenyum mendengar celotehan bocah gendut
itu, seakan benar-benar tahu apa yang terjadi.
“Hehehe…” Gaia tertawa malu. “Eh, Ngomong-ngomong nama kamu siapa?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Aku Jani. Anjani.”
“Jani Anjani?” tanya Gaia dengan senyum usil.
“Bukan, maksudnya namaku Anjani, tapi panggilannya Jani.” Wajah Jani memerah.
“Ohh…” Peter mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi aku lebih suka kalo nama kamu Jani Anjani. Aku bakal panggil
kamu Jani Anjani setiap kali ketemu sama kamu.” Ujar Gaia sambil
tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi susunya yang berantakan.
—
“Kita lulus!!” Teriak Gaia bersemangat sambil berjingkrak-jingrak.
Ia, Jani, dan Peter sedang berjalan berdampingan di halaman sekolah
mereka. Baju seragam SMP yang mereka kenakan terlihat agak berantakan.
“Lo berlebihan banget, Gai.” Ujar Peter kurang bersemangat.
“Iya, Gai.” Jani menyetujui.
“Loh, emang kalian nggak seneng, apa? Sebentar lagi kita SMA!” ujar Gaia dengan lebih bersemangat.
“Kamu kelebihan energi.” Balas jani.
“Dan agak autis.” Tambah Peter kalem.
Gaia pura-pura kesal. “Oke, oke. Gue bakal lebih tenang sedikit.
Emang kenapa sih, kok kalian kayaknya nggak bersemangat? Bukannya nilai
kalian lebih tinggi dari gue?”
Jani menggeleng sambil tersenyum kecil. “Kita berdua seneng, kok.
Tapi reaksi orang kan beda-beda.” Jawab Jani mewakili dirinya dan Peter.
“Dan karena reaksi gue dan Jani serupa, berarti reaksi lo yang
berlebihan.” Tambah Peter. Mendengar ejekan Peter, Gaia memasang tampang
cemberut.
“Yah, terserah apa kata kalian, lah. Yang jelas gue seneng banget.”
Gaia menjatuhkan pantatnya di atas rumput halaman sekolah mereka, lalu
diikuti oleh Jani dan Peter. Sesaat suasana menjadi hening. Tak satu pun
dari mereka yang berbicara.
“Guys, gue mau ngomong.” Suara serak Peter memecah keheningan.
“Kenapa, Pete?” tanya Gaia enteng.
“Gue… bakal pindah.” Jawabnya lirih.
“Pindah sekolah?” tanya Gaia lagi. “Ya iyalah, Pete! Masa kita mau SMP lagi.” Canda Gaia garing.
“GUE SERIUS, GAI!!” Bentak Peter tiba-tiba. Gaia terlonjak kaget. Jani apalagi. Peter tidak pernah seperti ini.
Melihat reaksi kedua temannya, emosi Peter mereda. “Sori.”
“Ka-kamu… beneran… mau pindah?” tanya Jani terbata. Matanya membulat, tidak percaya akan apa yang barusan didengarnya.
Peter mengangguk. Wajahnya lesu. “Kanada.” Kata Peter. Lirih.
Peter mengangguk. Wajahnya lesu. “Kanada.” Kata Peter. Lirih.
Jani menahan napas. Kanada… sepertinya jauh sekali…
“Peter…” kata Jani lagi. “…kita masih bisa temenan, kan? Maksudku… kita masih bisa telpon-telponan, email, atau apapun, kan?”
Peter menoleh lalu mengangkat bahu. Wajahnya keruh, rahangnya
mengeras. Memikirkan perpisahan dengan sahabat-sahabatnya adalah hal
yang dihindarinya beberapa bulan ini.
Jani menatap Peter, lalu mengerti apa yang dipikirkan oleh sahabatnya
itu. Tenggorokannya terasa kering seketika. Susah payah ia menelan
ludah, berharap kabar buruk ini pun akan ikut tertelan dan tidak akan
terdengar lagi. “Kapan, Pete?” tanya Jani kemudian.
Peter menghela napas. “Setelah kita bener-bener lulus. Gue lanjutin SMA di sana.”
Peter menatap Jani dalam. Mata Jani terlihat berkaca-kaca, membuat
Peter menyadari kebodohannya. “Sori banget gue baru ngasih tau kalian
sekarang. Gue… gue cuma belum siap…”
“Hahaha…” Gaia tiba-tiba tertawa sinis. Kedua temannya menoleh ke arahnya.
“Belum siap?” lanjut Gaia datar. “BRENGSEK!!” bentak Gaia. Ia
kemudian berdiri lalu meninggalkan Peter dan Jani berdua. Sesaat Peter
dan Jani saling bertatapan, sebelum kemudian ikut bangkit berdiri dan
menyusul Gaia.
—
“Happy Birthday, dear Jani Anjani.” Gaia memeluk Jani dengan penuh
sayang. Jani membenamkan wajahnya dalam pelukan Gaia, menyembunyikan
tangis harunya agar tak terlihat orang banyak di bandara itu.
“Kamu… parah banget sih…” kata Jani di sela isakan tangisnya. Gaia tersenyum. Kejutannya berhasil.
“Hehehe… kalo nggak gitu kan nggak seru, Sayang.”
“Aku kangen kamu, tau.” Jani mempererat pelukannya. Gaia juga. Kini mereka berpelukan dengan sangat erat.
“I miss you too, Darling…” Gaia mengecup kepala Jani ringan. “Dan…
Happy fourth anniversary to us…” katanya sambil mengacak-acak rambut
pacarnya itu.
“Iiiihhh, Gaia! Kamu tuh ya, dari dulu nggak pernah berubah
isengnya.” Protes Jani sambil mencubit pelan pinggang Gaia. Gaia malah
tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang kini tertata rapi dan
putih bersih.
“Ah masa, sih?” Tanya Gaia. “Tapi kamu suka kan, kalo aku begini…”
Gaia melepaskan pelukannya, tangan kanannya merogoh kantung kanan
celanannya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari situ, lalu berlutut di
depan Jani.
“Would you marry me, Anjani Xaverina?”
Jani terkesima. Air mata haru sekali lagi membanjiri pipinya. Dengan
kedua tangannya tertangkup di depan mulut, Jani mengangguk. Ia merasa
melayang untuk sesaat. Kini ia telah menemukan pasangan hidupnya,
seorang pemuda yang amat dicintainya. Gaia.
Gaia dan Jani lalu berpelukan, menikmati kebahagiaan yang baru mereka
dapatkan. Membiarkan puluhan, bahkan ratusan pasang mata menatap mereka
penuh haru.
Namun di tengah keramaian itu, Gaia dan Jani tidak menyadari bahwa
ada sepasang mata yang sedari tadi tak lepas mengamati mereka dari
kejauhan.
—
22 Oktober 2013
“Jani, Mama cuma nggak mau kamu sedih lagi.” Kata ibuku di telepon.
Bahkan suaranya yang terdengar khawatir tidak mengubah apapun. Aku tetap
akan ke sana.
“Jani tahu, Ma. Jani nggak lama-lama, kok.” Jawabku lirih.
“Tapi, Jani…”
“Iya Ma, Jani ngerti. Tapi Jani tetep harus pergi ke situ.” Potongku
dengan cepat. Niatku sudah bulat. Walaupun akan menyedihkan, tapi aku
tidak akan membatalkannya.
Ibuku menghela napas di seberang sana. “Ya sudahlah, kalau kamu memaksa.”
Aku tersenyum kecil. Akhirnya ibuku menyerah dan membiarkanku pergi. “Jani pergi dulu ya, Ma…”
“Iya, hati-hati ya, Sayang…”
“Dah Mama…” kututup sambungan telepon, kemudian mempersiapkan hati untuk menghadapi apa yang akan aku hadapi beberapa jam lagi.
Aku menyambangi kembali makam itu, sebuah makam yang memendam begitu
banyak kenangan tentang hatiku. Kutatap nisannya selama beberapa saat,
lalu kuletakkan sebuket bunga segar yang sengaja kubawa di atasnya.
Tak terasa air mataku menetes.
Tak terasa air mataku menetes.
Kuusap batu nisan itu dengan lembut. Kurasakan setiap huruf yang
terukir indah, namun sayangnya, tak seindah dirinya. Ya, dirinya, yang
namanya terukir di sana. Sosok yang begitu sempurna, yang telah kupuja
bertahun-tahun lamanya.
“Sayang, gimana kalo pemberkatannya tanggal 22 Oktober?” usulnya dengan bersemangat.
Suara itu masih terdengar dengan jelas. Suaranya yang indah, yang begitu begitu hidup dan nyata. Suara yang kurindukan.
“Kamu yakin, Say?” tanyaku agak ragu. Sebagai jawaban, ia mengangguk yakin.
“Emang kenapa, Say? Kamu nggak suka?” tanyanya.
“Ya… nggak apa-apa sih. Cuma…” aku tidak melanjutkan kalimatku. Aku menghela napas pelan. Ada yang salah, pikirku. Tapi apa?
“Kenapa sih, Say?” tanyanya lembut, namun berhasil memecah lamunankuu.
“Nggak, nggak apa-apa. Bagus kok, tanggalnya.” Jawabku akhirnya
sambil memaksakan senyum. Dalam hati aku masih merasakan perasaan tidak
enak itu, yang sedari tadi kucoba untuk hilangkan.
—
“Jani, kamu nggak ngerti. Aku sayang sama kamu!” katanya sambil menggenggam tanganku.
Aku menggeleng sambil memejamkan mata. Ini tidak seharusnya terjadi.
Tidak di saat seperti ini. “Kamu yang nggak ngerti. Aku tetep nggak
bisa. Aku bakal nikah sebentar lagi!” Jawabku.
“Nikah? Sama si Brengsek itu?” Tanyanya kasar, seakan ia lupa siapa
yang barusan ia panggil ‘Brengsek’. “Lupain dia, Jani! Kamu layak untuk
dapetin cowok yang lebih baik dari dia.”
“Yang lebih baik?” tanyaku sinis. “Siapa? Kamu?”
Pertanyaanku itu membuatnya terdiam sesaat. Namun seperti yang kubilang, hanya sesaat. Karena setelah itu ia kembali bersuara.
“Iya, Jani. Kamu bakal lebih bahagia sama aku. Aku jamin.” Kurasakan ia mempererat genggaman tangannya.
Ini gila.
“Kamu sakit! Nggak seharusnya kamu ngomong begitu!” aku kehilangan
kesabaran. Kuhentakkan tangannya dengan kasar, lalu pergi
meninggalkannya sendiri. Aku tidak pernah tahu akibat yang akan
ditimbulkan oleh perbuatanku itu.
—
“Jani…!! Gaia, Janii…” isak tangis terdengar dari seberang sana. Ternyata Ibu Gaia yang meneleponku.
Hari itu tepat satu hari sebelum pemberkatan pernikahan kami. Aku
sedang mematut diri di depan cermin dan mengagumi keanggunan gaun
pengantin yang akan aku kenakan besok, saat aku menerima panggilan
telepon itu.
“Ke-kenapa, Ma?” tanyaku panik. Rasa takut menyergapku, seakan menegaskan rasa khawatir yang selalu kurasakan belakangan ini.
“Gaia…” kata calon ibu mertuaku. Aku menahan napas, tahu bahwa ini
adalah kabar buruk. “..ditabrak orang…” DEG! Jantungku berhenti sesaat.
“…kondisinya kritis…” lalu terdengar suara bantingan yang keras. Calon
ibu mertuaku jatuh tak sadarkan diri.
Napasku sesak.
Ini tidak mungkin terjadi…
Kakiku lemas seketika. Aku jatuh terduduk di lantai, seperti
kehilangan seluruh kekuatanku saat itu juga. Aku tahu apa yang terjadi.
Aku tahu persis siapa pelakunya. Hanya saja aku tidak pernah berpikir
kalau ia benar-benar serius akan melakukannya.
Tiba-tiba terdengar dering dari telepon genggamku. Aku meraihnya
dengan tangan bergetar, lalu tanpa melihat siapa yang menelepon, kujawab
telepon itu.
“Jani, kamu tahu apa yang udah aku lakuin demi kamu? Aku bener-bener
ngelakuin itu, Jani!” kata lelaki di seberang. Lelaki bangsat itu.
Dialah yang telah menghancurkan pernikahanku. Tidak, bukan hanya
pernikahanku, tetapi hidupku. Seluruh hidupku.
Aku bergidik. Air mataku menetes. Rasanya sakit sekali. Aku tahu
rasanya dikhianati teman, dan aku tahu rasanya kehilangan orang yang
sangat kusayangi. Tapi tidak ada yang sesakit ini. Tidak ada yang
semenghancurkan ini.
“Peter…” kataku pelan, tak sanggup melanjutkan. Nama itu kini
terdengar begitu jahat, dan juga begitu memuakkan. Aku ingin
membentaknya, menusuknya dengan kata-kata, dan membuatnya merasa tidak
layak untuk hidup lagi karena kata-kataku. Aku membencinya.
—
Aku mengecup batu nisan itu lembut, sebagai suatu tanda perpisahan
terakhir. Kubelai foto yang terpasang di makam itu, foto seorang pemuda
yang sedang tersenyum lepas, foto seorang pemuda yang tak pernah tahu
kalau umurnya akan sesingkat ini.
Lalu aku bangkit berdiri, bersiap untuk pergi meninggalkan makam itu.
Kutatap sekali lagi batu nisan itu, sebelum aku benar-benar membalikkan
badan dan berjalan pergi. Kini aku akan pergi jauh, meninggalkan semua
kenangan tentang kita berdua, dan melupakan semua imaji yang kusebut
‘kita’.
Rest In Peace
Philipus Gaia Adrianto
Lahir: Jakarta, 18 Januari 1988
Meninggal: Jakarta, 22 Oktober 2011
Philipus Gaia Adrianto
Lahir: Jakarta, 18 Januari 1988
Meninggal: Jakarta, 22 Oktober 2011
Cerpen Karangan: Nadia
Blog: fufunna.blogspot.com
Facebook: Nadia Fu
Blog: fufunna.blogspot.com
Facebook: Nadia Fu



0 Komentar