Sahabat di saat-saat Terakhir
Pagi ini. Ini hari awalku masuk sekolah baru, yah rasanya
grogi memang. Karena ini baru pertama kalinya aku sekolah di luar
negeri, dan bisa dibilang bahasa inggrisku belum terlalu lancar.
Hari hariku di sekolah biasa saja. Malah banyak waktu yang aku
gunakan untuk merenung di bangku depan kelas sembari melihat anak anak
berlarian di lapangan. Aku merasa bosan setiap hari karena jarang ada
yang mengajakku main.
Tak terasa sudah hampir 6 bulan aku berada di sekolah ini. Sebentar
lagi aku lulus. Awalnya aku hanya merasa biasa saja karena teman teman
jarang ada yang memperhatikanku. Aku tidak merasakan kesedihan ketika
mengetahui waktu kami di Primary School tinggal sedikit lagi.
Akhirnya. Kelulusan pun tinggal seminggu lagi. Dalam waktu seminggu
itu, kami mengisi waktu dengan acara rekreasi keluar sekolah. Hal yang
aku rasakan saat itu adalah sedih, kesepian. Karena tidak ada yang
peduli denganku, dan orang yang ku anggap sudah dekat mempunyai gengnya
sendiri. “Tapi sudahlah. Kan aku hanya orang baru di kehidupan Kavya”
kataku dalam hati
Kavya, dia adalah salah satu murid yang pintar di kelasku. Dia sering
mendapatkan penghargaan di sekolah. Sudah lama aku memperhatikan dia.
Tapi tak pernah mengobrol dengannya sampai suatu saat guruku menempatkan
aku di sebelahnya.
Awalnya, aku dan Kavya hanya saling membalas senyum ketika
bertatapan. Tapi, akhirnya aku berani juga menanyakan kepadanya jika aku
mengalami kesulitan di kelas. Tak ku sangka kami berdua semakin dekat,
kami jadi sering diskusi bersama. Apalagi sekarang dia suka menanyakan
kepadaku tentang pelajaran matematika. Itu hal yang tak pernah ku
lupakan.
Habis lah 1 minggu masa senang-senang, di akhir minggu itu adalah
hari kelulusanku. Tapi kami masih masuk sekolah sampai minggu depan, dan
1 minggu itu kami isi dengan membantu guru membersihkan kelas dan
terutama membersihkan kelas kami sendiri, dan minggu itu pun kami tidak
belajar.
Tibalah di hari terakhir sekolah. Kami merencanakan Class Party pada
hari terakhir sekolah. Pada pagi hari, kami menandatangani seragam
sekolah dan guru kami memberikan sebuah boneka beruang yang dirancang
untuk di corat-coret. Kami pun langsung mencorat-coret seragam dan
boneka beruang. (Kami mencorat-coret dengan tulisan ya! Bukan gambar
gambar gak jelas), beberapa dari kami ada yang meminta tanda tangan dari
guru guru atau adik kelas.
Tak terasa, waktu kami bersama hampir habis. Kami melirik jam yang
saat itu sudah menunjukkan pukul 14.30! Kami semua kaget dan langsung
memberi ucapan selamat tinggal kepada teman teman yang lain. Saat itu,
aku melihat Kavya dan Crystal menangis, karena Kavya akan melanjutkan ke
sekolah lain, dan tidak ada satu pun yang akan melanjutkan ke sekolah
itu dari Primary School kami, tak kusadari air mataku jatuh juga. Ryan
yang saat itu di belakangku langsung berkata “Sudahlah Zahra. Jangan
menangis” aku pun hanya tersenyum kepadanya.
Tak kurasa, Kavya menoleh ke arahku dan langsung memelukku. Aku pun
memeluknya kembali. Dia berkata “Selamat tinggal Zahra, aku harap kita
bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Tetap kabar kabari aku ya!” ucapnya.
Aku pun mengangguk dan tidak kuasa membendung tangisku.
15 menit berlalu. Ini saat terakhir kami, dan hari terakhir di
Primary School ini, di tutup dengan membunyikan lonceng di teras
sekolah. Satu persatu dari kami berlari keluar kelas dan membunyikan
lonceng. “Teng teng teng” bunyi lonceng terakhir yang dibunyikan Ethan.
Beberapa orangtua murid yang hadir bertepuk tangan. Perlahan aku
mengemasi tasku dan merogoh kunci sepeda di sakuku, lalu ku kalungkan ke
leher.
Sirine terakhir pun berbunyi. Tanda sekolah telah usai, aku berjalan
perlahan menyusuri teras sekolah menuju tempat sepedaku di parkirkan. Di
sana. Kavya melambaikan tangannya ke arahku, itu kode agar aku
mendekat. Setelah itu, dia memberikan pelukan terakhir padaku sambil
berkata “kamu diam diam menjadi jenius!” katanya. Lalu aku balas
“terimakasih, tapi sebenarnya kamulah yang jenius karena kamu selalu
membantuku di kelas ketika aku kesusahan” dia pun berkata “Tak apa,
oiya. Berjanjilah di High School nanti kamu melakukan yang terbaik” aku
pun berkata “aku janji”.
Akhirnya dia melambaikan tangannya karena ia harus pulang. Aku pun
mulai menaiki sepeda dan mengayuhnya ke gerbang sekolah. Perlahan aku
tinggalkan Primary School. Dari kejauhan, nampak Pieta dan Finlae.
Mereka melambaikan tangan sembari mengatakan “Sampai jumpa lagi Zahra!”
dan aku pun menjawab “Sampai jumpa” seraya mengayuh sepedaku menjauh
dari sekolah.
Dan itulah kenangan yang selalu ada di hatiku. Pengalaman terbaruku
yang tak akan pernah ku lupakan dan selalu ada di memoryku. Untuk Kavya,
dia akan menjadi orang yang akan aku kenang selamanya, dan untuk guru
guru dan teman teman. Terima kasih sudah menerimaku di Primary School
ini, dan tentu saja aku tak akan melupakan kalian.
Thanks for reading ^_^
Hope you like it meskipun agak jelek.
Hope you like it meskipun agak jelek.
Cerpen Karangan: Zahra Nur Salsabila
Facebook: https://www.facebook.com/zahranur.salsabila.3
Facebook: https://www.facebook.com/zahranur.salsabila.3



0 Komentar