Allah Merindukanku
Suara derap langkah-langkah kaki di atas jalan beraspal bergema siang
itu. Lafaz tauhid dikumandangkan. Orang-orang beriringan memapah sebuah
keranda yang dipayungi payung warna hitam. Hawa panas, debu
berterbangan naik ke udara tertiup angin kering. Matahari enggan
bersembunyi di balik awan, ia seakan senang gembira menyaksikan hal itu.
Langit biru cerah mewarnai upacara pemakaman, angin siang bertiup
membawa hawa panas yang membelai kulit-kulit para pengiring jenazah.
Ingin rasanya berteduh menghindarinya.
Di dalam keranda, sesosok jasad tertidur pulas kaku tak bergerak.
Pakaian serba putih. Aroma kapur barus memenuhi udara dalam keranda.
Sebanyak tujuh ikatan melilit di sekujur tubuhnya. Jasad yang dahulu
seorang pemimpin di kampung itu kini sedang mengalami fase ke tiganya
menuju alam kekekalan. Keranda diturunkan. Jasad tua itu ditidurkan di
liang peristirahatan terakhirnya. Suara adzan dikumandangkan di kala
wajahnya dibuka dari kain putih.
Pucat pasi. Tampak ada raut bahagia pada jasad itu. Ia seakan gembira
akan segera bertemu dengan penciptanya. Adzan selesai dikumandangkan.
Saatnya tiba. Papan-papan kayu di tutupkan miring sepanjang seluruh
tubuhnya. Tanah kini akan menimbunnya. Meninggalkan kehidupan dunia
menuju alam selanjutnya. Gelap. Tanah telah menutup semua liang
lahatnya.
—
Sakit selama 44 hari membuatnya menyerah, sebenarnya tidak. Ia tahu
waktunya sudah tiba. Jauh sebelum hari ini tiba, ia terbaring lemas di
atas lasah tempat tidurnya. Ia mengalami mimpi yang aneh. Ia didatangi
almarhum ayahnya yang sudah tiada. Dia bingung dan takut. Sejenak ia
berfikir apakah ini merupakan tanda-tanda sang Khalik sedang
merindukannya? Keringat dingin bercucuran. Membasahi sekujur tubuh yang
kulitnya sudah mulai keriput. Dia terbangun di tengah malam yang sunyi.
Sepertiga malam. Dia menghela nafas panjang. Lafadz istighfar keluar
dengan tersendat-sendat diiringi batuk yang memecah keheningan malam.
Batuk yang beberapa hari ini membuatnya agak sedikit terganggu.
Ia bangkit dari tempat tidur, walau badan yang pegal sulit diajak
untuk kompromi. Dia berjalan agak renta menuju sumur di belakang
rumahnya. Udara yang sedingin es langsung menerpa wajahnya yang sudah
mulai keriput. Segera ia membuka tutup bong yang sudah berlumut hijau
tua.
Air mengalir deras menuju kedua tangannya. Ia kemudian berwudhu. Rasa
kantuk tak sedikitpun membuatnya meninggalkan sunnah Nabi yang satu ini.
Ia menengadah ke langit menghadap ke arah kiblat. Berdo’a.
Langit begitu cerah malam itu. Bintang bertaburan sejauh mata memandang.
“Subhanallah. Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam semesta yang
begitu indah ini.” Untuk kesekian kalinya ia mengucapkannya. Mungkin
tak terhitung banyaknya.
Ia masih merasa takut dengan mimpinya itu.
“Allahuakbar”. Dalam sujud renungnya ia berdo’a “Ya Allah, Engkau
Yang Maha Kuasa atas semua mahlukMu. Maka jika Engkau hendak
mengembalikanku ke haribaanMu, kembalikan aku dalam keadaan khusnul
khatimah”. Dua rakaat yang panjang. Ia tertunduk dalam kekhusyukkan.
Merenungi perbuatannya selama ini. Takut dengan amalnya tidak cukup saat
ia kembali pulang. Takut jika Sang Pencipta melemparnya ke neraka
Jahannam.
Bulir-bulir air mata jatuh menimpa sarung kotak-kotaknya. Tangan yang
keriput dipenuhi urat-urat menandakan ia seorang pekerja keras di masa
mudanya menengadah ke atas. Mengharapkan ampunan dari Sang Maha
Pengampun. Malam itu begitu sunyi. Hanya terdengar suara mahluk-mahluk
malam mengeluarkan suaranya menciptakan suasana malam yang khas.
Tak terasa dua jam lamanya ia tenggelam dalam do’anya. Suara adzan Subuh menggema menandakan hari akan segera beranjak.
Rona-rona merah mulai terlihat dari ufuk timur. Kelihatannya si raja
hari akan segera muncul menerpa hamparan bumi membawa cahaya kehidupan.
Ia bangkit dari tempatnya berjalan menuju rumah Allah. Berkumpul bersama
orang-orang yang sabar dalam beribadah.
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah
shalat Isya’ dan sholat Subuh. Sekiranya mereka mengetahaui apa yang
terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya
(berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak”. (HR Al-Bukhari dan
Muslim).
Ba’da sholat Subuh, ia merasakan sekujur tubuhnya sangat kedinginan
dan memaksanya berjalan pulang melewati setapak jalan berdebu. Embun
pagi itu semakin membuat tubuhnya seperti terbungkus es. Bibirnya tak
henti-henti bertasbih.
Cahaya dari langit belum menerangi tanah. Masih remang-remang. Lembab
berembun. Setetes embun jatuh dari langit yang biru bersih, turun
kemudian singgah di ruas-ruas daun bunga sepatu menuruni alur tangkai
pohonnya dan luruh terjatuh ke tanah berdebu. Lenyap.
—
Selimut membantu menghangatkan tubuh rentanya. Aroma secangkir teh di
atas meja menerawang hingga ke ujung hidungnya. Ia mencoba bangun dari
perbaringannya hendak meneguk teh yang biasa ia nikmati. Secangkir teh
buatan istrinya yang setia mendampingi hingga penghujung hidupnya.
Jari-jari tangannya bergetar memegang cangkir. Tangannya tak kuasa
menopang cangkir berisi air teh itu. Kraannkk! Suara itu mengagetkan
istrinya. Sontak ia bergegas menemui sang suami.
Terlihat ia sedang kedinginan, menggigil sampai-sampai bibirnya
bergetar. Puing-puing pecahan cangkir berserakan. Air teh yang kemerahan
bersimbah membasahi lantai semen. Mengundang semut-semut
mengerumuninya.
Raut wajah wanita tua itu segera berubah. Rasa khawatir pada sang
suami segera memenuhi relung jiwanya. Ia terlihat kelelahan. Wajahnya
pucat pasi. Kedua bola matanya terlihat berlinangan air mata. Baru kali
ini ia merasa seperti itu.
Tubuh renta nan lemah itu kini tak bisa apa-apa. Hanya berbaring
lemah tak berdaya. Kini segala aktivitas yang biasa ia lakukan sendiri
dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Setidaknya ia tidak terlalu
merepotkan orang lain. Setiap kali waktu sholat tiba, ia tidak pernah
sekalipun meninggalkan kewajibannya ini.
Semakin hari ia merasa keadaannya semakin lemah. Tak sekalipun ia
mengeluh. Ia semakin bersyukur dengan keadaannya saat ini. Dengan begitu
ia bisa lebih mendekatkan diri dengan Sang Khalik.
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah,
sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa
menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia
itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula)
kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada
orang-orang yang bersyukur”. (QS Ali Imran – 145)
—
Raja siang dan malam silih berganti, rona-rona jingga di ufuk barat
terlihat indah. Senja yang basah. Bumi baru saja disirami langit. Tanah
yang berdebu kini telah hilang. Daun-daun baru tumbuh serentak
menghijaukan pohon-pohon yang telah lama menantikan karunia sang ilahi.
Sebulan sudah berlalu. Ia kini sudah pasrah dengan keadaannya.
Saudara, kerabat, sahabat dan sanak keluarganya datang silih berganti
menjenguknya. Ucapan maaf selalu ia lontarkan dari bibir kering yang
terlihat kaku dan pecah-pecah itu kepada siapa saja yang datang
menemuinya. Ia tidak ingin meninggalkan kesalahan-kesalahan yang pernah
ia lakukan selama ini. Ia ingin pulang dalam keadaan bersih. Bersih dari
dosa-dosa.
Burung-burung kembali ke sarangnya. Penghujung langit barat merah
jingga. Matahari perlahan tenggelam di balik gunung. Adzan magrib
berkumandang. Empat puluh tiga hari berlalu. Selama itu ia mendengarkan
adzan di perbaringan. Suara adzan yang begitu menyentuh. Memanggil
insan-insan untuk segera berkumpul di rumah Allah. Berlomba-lomba
mencari ridho ilahi.
Angin senja menerpa pepohonan. Menciptakan bunyi gesekan-gesekan dedaunan. Membawa hawa sejuk senja itu.
Sesosok cahaya putih terang terbang di udara. Terbang bak kilat.
Aromanya begitu semerbak. Memikat apapun yang dilewatinya. Sosok yang
begitu indah. Perlahan menukik ke sebuah gubuk kecil. Masuk melalui
celah kecil jendela kayu. Mengagetkan seorang insan yang tengah
berbaring lemah.
Jantungnya mendadak berdetak hebat bukan main. Sekujur tubuh rentanya
bergetar dahsyat. Namun, sosok cahaya putih itu menghiburnya dengan
sebuah senyuman. Senyuman yang begitu menawan. Seumur hidup baru kali
ini ia melihat senyum yang begitu indahnya.
“Wahai hamba Allah yang sabar. Berbahagialah di hari kepulanganmu
ini. Seluruh penjuru langit tengah menanti kedatanganmu. Janganlah kau
bersedih hati meninggalkan keluargamu, karena mereka akan selalu dalam
lindungan Allah. Ini adalah buah kesabaranmu selama ini. Maka
bergembiralah engkau”, seru sosok putih itu.
Mendengar perkataan sosok cahaya itu, hatinya menjadi tenang. Ia
ingin segera bertemu dengan penciptanya. Maka mendekatlah sosok putih
nan bercahaya itu di hadapannya. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang
begitu sangat pedih di kedua kakinya, kemudian menjulur ke perut dan
sampai di tenggorokkannya.
“Laaaiilaaahaillallaaahhh…Muhammadurrosulullaaahhh…”. Ia menemukan
dirinya tengah bersama sosok putih itu di sampingnya. Ia melihat ke
bawah, seorang manusia tua nan renta tengah terbaring tak bernyawa di
lasah tempat tidurnya. Ia sangat bersedih melihat jasad itu. Seluruh
keluarganya mengelilingi jasad itu, terlihat raut wajah mereka bersedih
pula berlinangan air mata.
Namun, ia melihat ada senyum yang merekah di bibir jasadnya itu
sebelum di tutup kain. Selesai sudah perjalanannya di dunia. Kini, sang
malaikat akan membawanya ke langit, menuju Sang Pencipta. Cahaya putih
itu hilang sekejap menuju langit membawa jiwa insan sholeh bertemu
dengan sang Khalik yang merindukannya.
Tujuh hari setelah kepulangannya, tanah kuburan yang basah diterpa
angin pagi. Menjatuhkan bunga-bunga kamboja berwarna putih di atasnya.
Harum semerbak baunya. Harum aroma nikmat kubur yang kini ia dapatkan.
Semoga kau tenang di alam sana wahai insan yang dirindukan Ilahi dan
mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amiin.
Cerpen Karangan: Erwin Hadinata
Blog: hadinata7.blogspot.com
Facebook: Erwin Hadinata
Penulis adalah seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di
salah satu universitas negeri di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Menjadikan aktivitas menulis sebagai wadah bertukar pikiran sekaligus
sarana melepas emosi yang terkadang sulit diungkapkan. Namun lewat
kata-kata semua persoalan hidup seolah mengalir bak air sungai.
Penulis juga seorang blogger aktif. Blog penulis bisa dikunjungi di
http://hadinata7.blogspot.com, http://tipes64mes.blogspot.com,
http://kosong2tujuh.blogspot.com, http://ngeblog-i.blogspot.com.



0 Komentar