Mahasiswa Ala APPM
“Melihat dari lingkungan Organda APPM Polman”
A.
Pengantar
Hari ini telah banyak
muncul issu-issu yang kemudian menjadi permasalahan-permasalahan negeri yang
seharusnya menjadi bahan perbincangan bagi para pelopor atau Mahasiswa. Namun kenyataannya
justru seakan mahasiswa-mahasiswa ini seolah tutup kuping atau pura-pura tidak
tahu tentang permasalahan tersebut. Aksi-aksi lahir sebagai bentuk sikap masih
terbilang gerakan ekonomis dan bahkan heroistik. Tak mampunya menjadi pengeras
suara bagi suara-suara rakyat kecil yang masih tak di dengarkan dan bahkan
sering kali di bungkam, menjadikannya sebagai kalangan yang justru seakan
menjadi pendukung para penguasa.
Mahasiswa dan tanggung
jawab serta fungsinya, mungkin sudah matang bagi beberapa kader-kader APPM, dan
bahkan sudah menjadi bahan materi yang tak terlupakan pada saat melaksanakan
pembekalan terhadap mahasiswa baru yang kemudian menjadi bagian dari Organisasi
daerah APPM Polman. Mahasiswa-mahasiswa hari ini jelas berbeda dengan mahasiswa
terdahulu. Perbedaan ini jelas sekali, terlihat dalam soal perspektif,
intelektualitas, spritualitas, moralitas dan berbagai aspek lainnya. Mahasiswa-mahasiswa
hari ini cenderung berperspektif sectarian atau eksklusif dan juga masih belum
mampu meninggalkan penyakitnya yaitu hedonis. Perbedaan-perbedaan seperti ini,
tak bisa di pungkiri dan bisa menjadi kemungkinan bahwa yang menjadi sebab
musabab akan semua itu ialah lingkungan yang belum mampu membawa para mahasiswa
menjadi pelopor atau Agent Of Change seperti yang selalu di dengungkannya. Walaupun
pada akhirnya beberapa klarifikasi yang lahir dari beberapa mahasiswa yang
masih setia berlawan yaitu semua akar dari permasalahan yang ada di negeri ini
adalah karena system yang jelas tidak berpihak kepada kepentingan mayoritas
rakyat yang menginginkan kesejahteraan dan penguasaan terhadap
instansi/lembaga-lembaga vital di Negara yang kemudian menjadi alat hegemoni
untuk mempertahankan kekuasaan tersebut.
B.
APPM Dan Kader-kadernya
Diatas merupakan
pandangan atas objek yang masih terbilang universal. Seperti yang menjadi acuan
dari tulisan ini yaitu melihat sisi kemahasiswaan kader-kader APPM yang telah
di bentuk oleh lingkungan sekitarnya, maka saya akan sedikit memaparkan beberapa
penilaian tentang mahasiswa-mahasiswa yang bergabung di dalam organda APPM. Dalam
hal ini, jangan sampai kemudian menjadi beberapa kawan-kawan yang menjadi objek
penilaian akan memberikan tanggapan atau sanggahan yang tidak etis atau berbuah
diskusi yang tidak sehat, karena ini merupakan tulisan yang berbau kritikan
terhadap diri kita yang satu dalam APPM Polman.
Jika dalam pahamannya
kita tentang seorang mahasiswa yang di adopsi dari kurikulum APPM yaitu materi “Mahasiswa
dan tanggung jawab sosial”,kita mungkin akan berpikir bahwa mahasiswa seharusnya
memiliki empat aspek yaitu mampu menjadi; insane
religious, insan akademis, insan mandiri, insan sosial. Tapi yang menjadi
pertanyaan hari ini ialah, mampukah kita menjadi insan-insan seperti yang di
sebutkan tadi. Ketika melihat dari lingklungan kita sebagai mahasiswa sekaligus
kader APPM Polman, maka yang terlihat hanyalah insan-insan yang jauh berbeda
dari apa yang di tuliskan dalam materi pengkaderan APPM. Dan hal itu seharusnya
kita rubah sehingga tidak mendarah daging di dalam tubuh dan menular ke
generasi ke generasi berikutnya. Permasalahan-permasalahan yang di maksud
ialah:
1.
Mahasiswa Individualis (Non-Socialistic)
Sejatinya manusia
adalah makhluk yang sosial dan tak akan mampu hidup tanpa adanya interaksi sesame
individu atau kelompok atau tanpa bantuan orang lain. Apa yang dimaksud tentang
mahasiswa yang individualistic, yaitu orang-orang yang masih mempertahankan egoismenya
dengan keras dan juga terbilang terbilang tertutup dan seolah tidak mau
mengamalkan salah-satu nilai kemasyarakatn yaitu gotong royong atau saling
berbagi. Intinya ialah mementingkan diri sendiri.
2.
Sektarian
Sekte-sekte
lahir secara tidak langsung di dalam lingkungan kita atau dalam lingkungan
organisasi APPM. Sectarian yang dimaksudkan ini ialah, pengkotakan-pengkotakan
atau pengelompokan yang terbentuk atas dasar rasistme atau atas dasar
perpektif. Hal ini jelas menjadipenyakit bagi persatuan atau kesolidaritasan
yang selama ini di junjung tinggi APPM Polman.
3.
Arogansi Intelektual
Kesombongan organisasi
atau kesombongan intelektualitas sering kali menjadi faktor atau pemicu
berbagai konflik-konflik atau masalah-masalah yang sering kali terjadi di dalam
internal APPM. Di tataran dewan senior, pengurus inti/pusat maupun anggota
biasa.
4.
Lokalis
Lokalis menjadi
salah satu pemicu mahasiswa atau kader-kader APPM tak mampu menjadi mahasiswa
atau kader yang membawa nilai-nilai kepeloporan ke dalam lingkungannya dan
lingkunga masyarakat. Apa kemudian yang di maksud lokalis, lokalis ialah
kebiasaan yang juga berbau sekte atau rasistme jika di lihat secara umum. Mengapa
hari ini kader-kader APPM tak mampu lagi
memperlihatkan keeksistensiannya dalam hal pertarungan politik kampus atau pun
keilmuannya. Semua itu di karenakan lingkungan yang masih terbilang lokalis. Terbuka
dan bergaul ke semua kalangan belum mampu kita perlihatkan, kita hanya berkutat
pada tataran sukuisme atau seorganda. Padahal yang menjadi salah satu pendorong
kita menjadi kader yang maju ialah menghilangkan sikap lokalis tersebut atau
lebih terbuka kepada kelompok atau kalangan lainnya.
5.
Non-idiology
Manusia tanpa idiologi,
perspektif atau prinsip dalam hidup di ibaratkan orang buta tanpa tongkat dan
insting. Tak mampunya kita menjadi individu ataupun kelompok yang beridiologi adalah
merupakan salah-satu pemicu hilangnya nilai dari insan-insan yang di sebutkan
dalam materi “Mapaba” organda APPM. Dan menjadikan kita sebagai orang-orang
yang kecil kemungkinan akan mampu memberikan perubahan-perubahan terhadap
lingkungannya maupun lingkungan masyarakat.
C.
Faktor Yang Menjadi Sebab Musabab Penyakit-penyakit
di Atas
Apa yang menjadi pemicu
dari permasalahan seperti di atas. Singkat saja, mahasiswa hari ini terkungkung
dalam tempurung. Maksudnya ialah pergulatannya masih berkutat dalam
lingkungannya saja dan seakan enggan untuk berjalan keluar. Namun yang menjadi
fator utama sudah saya utarakan dalam pembahasan awal di tulisan ini, yaitu
hegemoni yang di lahirkan oleh system capital dalam hal mempertahankan
kekusaannya. Dalam hal ini, pemicu atau faktor-faktornya akan lebih saya
jelaskan dalam tulisan berikutnya.
Kemudian solusi untuk
permasalahan ini ialah, jelas kembali berpedoman kepada sejatinya mahasiswa
seperti yang di jelaskan dalam materi-materi yang justru termasuk di dalam
kurikulum APPM sendiri.
Maaf ketika penjelasan
akan faktor atau pemicu dari permasalahn kita hari dan kurangnya penjelasan
akan solusi dari masalah tersebut, di karenakan kestabilan penulis pada saat menulis
artikel ini tidak pada kestabilan manusia pada umumnya (Ngantuks).
Thanks….
oleh: A.R Nomaden



1 Komentar
Assalamualaikum... Saya adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare yang sempat mengikuti pengkaderan APPM POLMAN kemarin. Saya berharap APPM POLMAN dapat mengutamakan Ilmu pengetahuan, dan silaturahmi antara masyarakat Sulawesi barat khususnya POLEWALI MANDAR...!!!!
BalasHapus