Mau Dibawa Kemana ?
A.R.
A.R.
Berangkat dari
keresahan-keresahan oleh beberapa penghuni Organisasi yang sedang di
pertanyakan keeksistensiannya. Banyak yang bertanya tentang dimana organisasi
yang telah banyak melahirkan kader-kader briliant “katanya”, kemana organisasi
yang “katanya” menjunjung tinggi kesolidaritasan dan persaudaraan yang erat,
serta bagaimana keberlanjutan organisasi yang “katanya” salah-satu mesin
pencipta manusia-manusia yang intelektualis dan spritualis tinggi.
Pertanyaan seperti di
atas bisa jadi menuai jawaban dengan sebuah pertanyaan balik. Yaitu dimana para
penghuninya yang sudah briliant itu ? kemana orang-orangnya yang solid itu ?
serta bagaimana perkembangan intelektualitas kader-kadernya ? yang masih saja
memepertanyakan benda mati ini, namun tidak kemudian langsung memberingkan
bukti keresahan dan kepeduliannya kepada organisasi dengan langsung berbuat
tanpa bertanya-tanya lagi.
Jika kita mengenal KOK
(Kritik oto Kritik), pastinya hal seperti ini atau forum yang isinya hanya
mempertemukan komentar-komentar dari akun sosial media, bukanlah sebuah wadah yang
baik untuk saling mengintropeki diri dan mencari jalan keluar untuk
permasalahan yang di hadapi sekarang. Lagipula ini bukanlah kritik ataupun
keresahan yang coba di curahkan.
Berbagai macam
permasalahan yang di hadapi saat ini tidak menutup kemungkinan akan adanya
anggapan tentang “itu wajar-wajar saja” dalam sebuah organisasi. Memang betul
bahwa setiap individu atau kelompok tidak akan luput dari yang namanya “masalah”.
Tapi apakah hanya saling melempar tanya dan intrik yang sebenarnya tidak
terlalu sehat itu akan melahirkan sebuah solusi tanpa adanya tindak lanjut yang
mengarah ke perubahan atau solusi yang sejatinya itulah yang kita cari.
Secara pribadi, saya
seakan dilematis untuk mengambil sebuah sikap diantara pergulatan arogansi serta
egoisme yang ditunjukkan oleh beberapa tokoh yang seharusnya menjadi pengayom
serta menunjukkan langkah yang seharusnya di lakukan. Posisi sebagai pemain
membuat saya secara pribadi harus berbuat tidak hanya bertanya-tanya seperti
yang telah di lakukan oleh beberapa pemain lainnya. Jika club sepakbola saja
membutuhkan kapten sebagai pemimpin dan pelatih sebagai pembimbing, apakah pemain-pemain
yang sedang terlantarkan ini tidak membutuhkan hal yang sama ? pastinya butuh
lah.... iya kan ?. Jika salah satu tokoh senior bertanya dengan kata “kemana, dimana, dan bagaimana” mungkin saat ini kita harus
bertanya “kapan”. Kapan kita akan
berbuat.
Di tulis oleh: Manusia
yang masih hidup dan masih prihatin.



0 Komentar