Penulis Perempuan Pertama di Mandar?
Sabtu 30th, Maret 2013 / 18:16 Written by Dari Dahlan Iskan Hingga Imam Lapeo (selesai)Laporan: Muhammad Ridwan Alimuddin
“Jejak Wali Nusantara: Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar” yang ditulis Zuhriah sepertinya buku pertama yang lahir dari gemulai tangan wanita Mandar. Saya telah mengoleksi kurang lebih 50 buku tentang Mandar, tapi semuanya ditulis kaum Adam.
Memang sih ada juga penulis perempuan, tapi itu dalam sebuah kompilasi atau antologi tulisan. Yang ditulis seorang diri, yang wujudnya dalam sebuah buku (dicetak massal, ada ISBN dan syarat hingga layak disebut sebuah buku), baru kali ini saya lihat, yaitu di buku tersebut di atas. Jika memang ada fakta lain bahwa sebelumnya telah ada penulis perempuan, secara otomatis pendapat saya di atas terbantahkan.
Buku tentang Imam Lapeo setidaknya sudah empat kali terbit, misalnya “Ajaran Imam Lapeo” yang diterbitkan Pustaka Refleksi. Hanya saja buku tersebut tidak membahas banyak tentang Imam Lapeo. Pun, ada kesalahan fatal di dalam. Dikatakan Imam Lapeo itu lahir di Pamboang. Ada juga yang ditulis cucunya, yang sekarang sebagai penjabat Imam Mesjid At Taubah, Lapeo.
Sayangnya, buku tersebut masih dalam bentuk fotokopian. Padahal isinya juga cukup lengkap. Misalnya pembahasan tentang sejarah menara Mesjid At Taubah Lapeo, pengurus mesjid dari waktu ke waktu, dan hal lain, yang tidak dibahas banyak di buku yang ditulis Zuhriah.
Buku “Jejak Wali Nusantara: Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar” diterbitkan Januari 2013, tapi pertama kali saya lihat pada acara diskusi buku tersebut di Pambusuang, kampung kelahiran Imam Lapeo. Tepatnya di Mesjid At Taqwa Pambusuang pada 22 Maret lalu, beberapa jam saat saya balik dari Makassar setelah mengikuti “Makassar Writer Day 2013”.
Meski hampir setiap malam di mesjid tersebut diadakan kajian buku (baca: kitab), tapi pada hari Jumat tersebut berbeda. Buku yang dibahas buku ‘modern’, yakni dicetak latin dan berbahasa Indonesia. Alias bukan “kittaq gondol”. Dan yang paling menarik, pembicara utamanya seorang perempuan. Yakni si penulis buku, Zuhriah. Zuhriah didampingi saudara dan ibundanya (cucu Imam Lapeo). Yang menjadi pembahas atau pembanding ialah S. Ahmad Fadl Al Mahdaly (anak S. Jafar Thaha).
“Diskusi buku ini diadakan untuk memperkenalkan lebih dalam keulamaan dan kewalian Imam Lapeo kepada generasi sekarang. Bagaimana sosok Imam Lapeo bisa menjadi figur sentral dalam mengatasi krisi figur di era modern,” ungkap Ilmah Sopu (pengajar di Pesantren Nuhiyah, Pambusuang).
Tambahnya, “Kesejarahan Imam Lapeo dalam berdakwah di masyarakat yang masih kuat budaya lokalnya, yang sebagian besar bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam juga harus diteladani lewat membaca karya buku tersebut.”
Acara terlaksana atas kerjasama Jaringan Islam Tengah, Forum Santri Assampambusuangan, Bahtera Mandar, Mesjid At TAqwa Pambusuang, Gerakan Pemuda Islam, IJABI Polman, IKA Nuhiyah, IPNU Sulbar, dan Forum Santri se-Sulawesi Barat. Diskusi buku yang diikuti sekitar 60 orang tersebut ditandai dengan pembagian buku Jejak Wali Nusantara: Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar secara gratis. Pengadaan buku difasilitasi oleh Syamsul Samad, anggota DPRD Polewali Mandar yang juga merupakan putra setempat.
Kurang sepekan kemudian, diskusi untuk buku yang sama kembali diadakan. Kali ini di Kedai Seni Uwake, Tinggas-tinggas Tinambung (27/03). Merupakan seri pertama dari rangkaian diskusi buku “Jejak Wali Nusantara: Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar” yang difasilitasi Dewan Kebudayaan Mandar Sulawesi Barat (DKM-SB) bekerjasama dengan harian Radar Sulbar serta Uwake Foundation.
Menurut Rahmat Muchtar, yang akrab disapa Mat Panggung, “Uwake terbuka bagi kegiatan seni budaya dan keilmuan. Memang di sini juga dipamerkan dan dijual berbagai lukisan dan karya seni lain, tapi Uwake juga adalah ruang untuk melakukan diskusi, sebagaimana bedah buku karya saudarai Zuhuriah.”
Bila sebelumnya diskusi di Pambusuang mayoritas dihadiri santri yang menuntut ilmu agama Islam di Pambusuang, peserta diskusi di Kedai Seni Uwake umumya para pekerja seni – budaya. Seperti Adil Tambono, Ishaq Jenggot, Rifai Husdar, Hardi Jamal, Amru Sa’dong, Dalip Palipoi, Rahman Baaz, dan beberapa mahasiswa. Turut hadir dan berperan sebagai pembicara, Nurdin Hamma dan Tammalele sebagai moderator.
“Memang buku ini bisa dikatakan sebagai buku sejarah, tapi apa yang dilakukan oleh penulis dan kegiatan diskusi ini adalah bagian dari sejarah masa depan,” tutur Nurdin Hamma antusias.
Orang Mandar Menulis
Sejak mengikuti acara diskusi buku “Surat Dahlan” di Makassar hingga diskusi buku “Jejak Wali Nusantara: Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar” di Mandar adalah pekan luar biasa bagi saya. Soalnya dalam waktu kurang dua pekan tersebut beberapa kejadian penting tentang perbukuan terjadi. Mungkin agak subyektif, tapi bagaimana pun ada benang merahnya dengan dunia literasi atau keaksaraan di Mandar. Yakni tradisi menulis buku.
Seperti yang saya sampaikan di awal, ada banyak pustaka Mandar. Tapi yang ditulis oleh perempuan, baru buku “Jejak Wali Nusantara: Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar”. Salah satu kekurangan penulis-penulis Mandar adalah sangat jarangnya tulisan mereka terbit “menasional”.
Hampir tak ada buku tentang Mandar yang tersebar menjadi salah satu faktor Mandar tak dikenal, membuat pustaka Mandar jarang dikutip. Sebagai contoh referensi yang digunakan oleh Christian Pelras dalam bukunya “Manusia Bugis”. Dari sekian puluh buku yang dia jadikan referensi, satu-satunya buku tentang Mandar yang ada di dalam adalah buku “Orang Mandar Orang Laut”, yang saya tulis. Kok bisa? Padahal kan ada banyak buku tentang Mandar?
Alasannya, sebab tulisan saya itu tersebar nasional. Yang lain tidak. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan kualitas isi, tapi kualitas persebaran buku. Kalau orang Mandar saja yang baca (sebab hanya tersebar di Mandar) kurang elok. Idealnya kan orang luar juga membacanya! Kalau memang ingin Mandar dikenal; kalau memang tulisan tentang Mandar juga dibaca orang Mandar yang tinggal di perantauan. Syukurlah ada buku yang ditulis oleh Zuhuriah, yang sepertinya dibuat untuk pasaran nasional (ada di toko-toko buku).
Hal lain yang harus dilakukan adalah menggalakkan diskusi buku. Ada penghargaan atas buku, salah satunya dengan meluncurkan dan membedahnya. Tujuannya, agar orang tahu ada buku “itu”, kemudian diberi masukan. Kalau dilepas begitu saja tanpa ada promosi, orang yang tahu ada buku itu tentu tidak banyak.
Kuncinya adalah, di era sekarang, setelah buku terbit, harus ada promosi, harus ada masukan dari pembaca. Untuk itulah DKM-SB dan harian Radar Sulbar berinisiatif untuk memulai seri diskusi-diskusi buku oleh penulis Mandar. Setelah buku tentang Imam Lapeo, berikutnya adalah buku “Analekta Beruq-beruq: Perempuan Mandar Menjawab”. Buku yang tak kalah serunya sebab buku tersebut ditulis oleh lebih 20 perempuan Mandar! Ternyata, ada banyak penulis perempuan di Mandar.



0 Komentar