Oleh:
Amerialdi Said SE. SF. Ph.D
Berlandaskan
atas permasalahan negeri saat ini yang belum mampu menuai sebuah solusi
kongkrit untuk masalah yang menjadi jawaban atas semuanya. Seiring dengan
perkembangan Ilmu Pengetahuan dan peradaban dunia, akhirnya masa kembali
melahirkan beberapa pemikiran-pemikiran yang tak kalah pentingnya untuk kita
kaji lebih dalam.
Berdasarkan
hasil dialog panjang dari salah satu guru besar di Universitas Jena Berlin,
Jerman. Bapak Prof. Dr. Suriadi Hendra Syarif SF (Adi Codon). Akhirnya saya mampu
menyimpulkan beberapa dasar pemikiran dari empat Filsuf dan thesisnya yang tak
luput dari kontradiksi antara satu sama lain.
Pada
tahun 2015 lahirlah pemikiran-pemikiran tersebut yang kemudian bersaing dengan
pemikiran-pemikiran yang sudah ada untuk kemudian digunakan dalam memecahkan
beberapa masalah-masalah dalam bidangnya. Diantaranya seorang filsuf wanita,
Hariska Kasim (kasimisme), Haerul Ghaibi (Eruisme), Sulamang El Fuadi
(Lamangisme/Sandoisme) dan terakhir yang thesisnya banyak di gunakan dalam Ilmu
Biologi dan Medis yaitu Miftahuddin Bhitokantrophus (Bhitokisme).
Ke
empat pemikiran yang akan kita kaji nantinya ialah merupakan pemikiran yang
telah banyak menuai perubahan di dalam beberapa ilmu pengetahuan saat ini.
Seperti didalam Ilmu Mistis dan Kebudayaan, Theologi, Sosial, dan Biologi serta
medis. Tokoh filsuf berikut adalah sama berpengaruhnya dengan Filsuf-filsuf
sebelumnya yang telah ada. Untuk lebih lanjut mari kita mencoba membuka nalar
berfikir untuk mampu lebih jauh mengkaji dasar-dasar pemikiran dari ke empat
filsuf berikut.
Dasar pemikiran
1.
Hariska Kasim
Hariska
Kasim merupakan salah satu tokoh Filsuf wanita yang memberikan pengaruhnya
dalam ilmu Mistis dan Teologia. Ia merupakan lulusan dari Oxford University of
German. Yang kemudian berhasil melahirkan sebuah Thesis yang kita kenal Kasimisme.
Dasar
pemikiran Kasimisme merupakan thesis
yang banyak memberikan pengaruh di dalam Ilmu mistis saat ini namun juga
mengundang Kontroversi setelah lahir sebuah thesis baru yang selanjutnya
mengkritisi thesisnya. Kasimisme berpandangan
bahwa, Makhluk gaib mempunyai Zat tersendiri dan jenisnya bisa di bedakan dari
Gender seperti halnya Manusia biasa, Gender yang terdiri dari laki-laki,
Perempuan, dan Multi Gender. Namun pandangan ini kemudian dibantahkan oleh
muridnya sendiri yaitu Haerul Ghaibi.
2.
Haerul Ghaibi.
Haerul
Ghaibi lahir di kota Haralki pada tahun 1996, ia menyelesaikan studinya di
salah satu perguruan tinggi yang terkemuka di kotanya dengan konsentrasi pada
bidang Filsafat dan Mistisisme. Haerul Ghaibi merupakan Kaum Kasimis Muda saat menjadi seorang mahasiswa di Universitas
Lembang, yang pada akhirnya memberikan juga kritikan lewat pandangannya sendiri
yang kita kenal sebagai pandangan paling kontroversional dalam ilmu mistis
yaitu Eruisme.
Dasar
pemikiran Eruisme ialah berpandangan
bahwa Makhluk Gaib sejatinya adalah multi gender atau tidak memiliki Gender
sama sekali. Haerul ghaibi juga berpendapat bahwa peristiwa seperti kerasukan
atau katamattamanan (bahasa Haralki
Kuno), merupakan bentuk dari ilusi hal ghaib yang terjadi ketika seorang
manusia men-non-aktifkan otaknya atau ketika otak tidak berproses. Dan dalam
penelitian terkhirnya ia kemudian menyimpulkan bahwa Makhluk ghaib juga mampu
merasuki sesamanya makhluk ghaib. (thesis ini masih menuai kontroversi hingga
saat ini).
3.
Sulamang El Fuadi
Filsuf
yang satu ini merupakan filsuf yang paling tertua dari ke tiga filsuf dan
pemikirannya yang akan kita kaji nantinya. Sulamang El Fuadi merupakan tokoh
Mistisisme yang paling terkemuka sampai hari ini. Dan beberapa pemikirannya
masih juga dijadikan pedoman dalam beberapa masalah sosial yang sering terjadi
di lingkungan masyarakat. Ia terkenal dengan thesis Lamangisme atau Sandoisme.
Sandoisme memberikan pengaruhnya dalam bidang Mistisisme dan Theologia yang
sampai sekarang masih di gunakan.
Sandoisme berpendapat
bahwa Kerasukan yang sering terjadi pada diri manusia merupakan bentuk
interaksi atau komunikasi yang ingin di lakukan oleh makhluk Ghaib. Biasanya
komunikasi ini dilakukan setelah makhluk ghaib merasa terganggu atas apa yang
dilakukan oleh manusia.
4.
Miftahuddin Bhitokantrophus
Lahir
dan tumbuh besar di pinggiran bendungan besar di sudut kota Haralki yang
kemudian banyak mempelajari gejala-gejala sosial yang acap kali terjadi
disekitarnya.
Filsuf
yang satu ini mengembangkan pemikirannya setelah mengkaji thesis dari filsuf
Jerman Peurbach yang didasari dari
filsafat Materialisme Metafisika. Banyak
teorinya yang kemudian di gunakan dalam bidang Medis atau kedokteran dan juga
dalam Ilmu pengetahuan alam atau Biologi. Bhitokisme
kemudian menjadi thesis yang mengkritisi dari apa yang telah menjadi
pandangan dari tiga filsuf sebelumnya.
Bhitokisme berpendapat
bahwa hal Ghaib hanyalah ilusi belaka atau non-sence.
Ia mengemukakan teorinya atas dasar kondisi objek ilmiah yang terjadi
disekitarnya. Kemudian memberikan kesimpulan bahwa segala sesuatu yang terjadi
atas dasar faktor eksternal yang bersifat kondisi materil yang ada. Ia
menafikkan faktor intern atau faktor Absolut seperti yang di kemukakan oleh Plato, Hariska kasim, Haerul Ghaibi, dan
Sulamang El Fuadi.
Namun
pada akhirnya ia tak mampu memberikan bukti atau merasionalkan teorinya yang
sampai pada hari ini masih dikaji oleh tokoh-tokoh filsuf lainnya. Namun
beberapa teorinya juga sudah dikembangkan dalam bidang sosial, kedokteran, dan
biologi.
Beberapa pemikiran diatas mempunyai
pengaruh masing-masing dalam bidangnya. Walaupun belum mampu di buktikan secara
ilmiah, pemikiran tersebut sudah menunjukkan
pengaruhnya dalam bidang keilmuannya masing-masing. Tinggal kita para pelajar
yang akan menyaring apakah dasar pemikiran tersebut mampu kita gunakan untuk
menuai sebuah solusi dalam berbagai masalah sosial yang sering terjadi dilingkungan
kita atau sebaliknya.
Semoga tulisan kali ini bisa menjadi
tambahan referensi kepada para pembaca yang selanjutnya akan mengilhami sebuah
pemikiran baru kedepannya. Penjelasan dan pengkajian lebih lanjut akan kita temukan
di beberapa tulisan dan buku-buku dari Amerialdi Said, semoga bermanfaat dan
mengundang tawa. :D
Keterangan:
Tulisan ini mengandung “perheleman” dan bersifat fiksi belaka dan tidak
mempunyai sisi kebenaran apapun!.



0 Komentar