Petang itu,
sekitar pukul 19:45 Wita. Saya tiba di secretariat APPM, setelah menunaikan Ibadah diskusi di pelataran gedung F UMPAR.
Setibanya di secret, saya melihat banyak motor terparkir rapih tepat di beranda
rumah persinggahan itu, dijemput oleh bauh pisang epe dan gemericik
penggorengan yang riuh rendah dapur menyertainya.
Sebagian anggota
APPM asyik bermain gawai dan yang lainnya bercanda ria di dapur. Terlihat pisang
yang siap digoreng, terlihat juga rempah yang siap menjadi sambel penyempurna
pisang epe ala Herma Cs.
Tugas Herma
Cs telah usai ditunaikan, 2 sampai 3 piring beserta sambel pun diantarkan ke
ruang yang lebih luas. Kami pun duduk bersila, mengobrol dan melanjut
bercanda ria. “Manya-manyai kak Lulla !” tegur
canda Nina kepada Lulla yang tengah menyantap pisang epe dengan lahap.
Beberapa dari
kami pun bergantian melontarkan canda, selebihnya kami berbagi cerita, dari
soal pengalaman hingga bercerita soal bagaimana kehidupan di kampus
masing-masing. “Ma’demo I tau dao
kampusku sammai..” terang Ramli, “Apa
issuenya ?!” sergap Anty dengan geliat kepo yang menjadi-jadi. “Soal rupiah kalo tidak salah ka..” jawab
Ramli dengan mulut yang masih mengunyah pisang epe yang tinggal beberapa potong
itu.
Malam pun
makin larut, pisang epe pun sudah berpindah ruang dan bentuk. Sebagian beralih
dari lingkar kekeluargaan itu, Herma Cs pun bergegas pulang ke kontrakannya,
sebagian lagi kembali sibuk dengan gawai ditangan, sebagiannya lagi mencoba
menikmati angin malam dengan menyeruput kopi dipinggiran jalan, sedang yang
lainnya mencoba membuka lembaran-lembaran buku dan membaca.
Malam ini
telah berkisah ; tentang keluarga, persahabatan, dan cinta. Saya sendiri
memandangi gerak-gerik mereka dan menggumam pelan “Kurang tarasi peco’na..”.



0 Komentar