Pendidikan Islam di Era Milenial

Milenial adalah kelompok demografi yang lahir di masa imperium abad 21 . Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Ketika memasuki era millenial sesungguhnya ciri-ciri post modern dan ciri globalisasi sebagaimana tersebut diatas, masih melekat. Berbagai macam tantangan dan permasalahan yang terdapat di setiap masa dewasa ini, bahkan masalah dan tantangannya bertumpuk-tumpuk dan kontinyu.

Abada 21 menunjukkan wajah sesungguhnya, wajah dimana hamper segala sesuatu bersinggungan dengan ilmu pengetahuan dan teknlogi yang mutakhir. Kemajuan ini jelas harus berjalan bersamaan dengan kuantitas dan kualitas sumber daya manusianya, dan kelompok milenial menjadi salah satu penyokong untuk hal tersebut.

Sumber foto : koleksi Pribadi
Masa milenial bukanlah sebuah persoalan yang berdampak buruk, ada banyak kontribusi terhadap kemajuan jaman. Tetapi kelompok milenial yang kian hari semakin eksis harus tetap memiliki tameng sebagaimana kultur Indonesia yang ketimuran, terlebih generasi muda juga sebagai generasi Islam di Indonesia. Jaman yang berbasis pada teknologi, informasi dan pengetahuan yang begitu instan didapatkan, serta komunikasi ruang maya sudah tak terbatas haruslah mampu mengawal kemajuan bangsa dan Agama kearah yang lebih baik tetapi kenyataannya justru sebaliknya, banyak peristiwa dan persoalan terkhusus di Indonesia yang bisa dijadikan contoh kasus sebagai pembenaran bahwasanya kelompok milenial tak cukup berbekal dengan kemjuan teknologi saja tetapi juga harus dibekali dengan tameng akhlak dan kultur ketimuran. Lalu, pertanyanya kemudian strategi apa yang disiapkan guna melakukan hal tersebut.

Selanjutnya, terkait dengan permasalahan dan tantangan yang terjadi di era milenial seperti kebebasan, senang melakukan personalisasi, mengandalkan kecepatan informasi yang instan, suka belajar, bekerja dengan lingkungan inovatif, aktif bekerja sama dan lain sebagainya. Semua orang terkhusus Muslim perlu menyusun dan menciptakan sistem kehidupan keagamaan tersendiri, sebagai hasil adaptasi dengan lingkungan yang baru, ataukah mereka masih bersikukuh mempertahankan sistem aturan fikih lama yang biasa digunakan atau dipraktikkan ditempat-tempat yang dihuni oleh mayoritas muslim baik di Timur Tengah, Pakistan dan Indonesia.

Pendidikan Islam yang berbasis pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknlogi menjadi salah-satu jawaban. Lari dari pada kemjuan jaman bukanlah cara untuk menjawab persoalan era milenial ini, justru melibatkan diri didalamnya adalah kebutuhan mendesak.

Tanggungjawab dalam memberi bimbingan pada manusia dalam menghadari era milenial juga dapat dilihat dari perhatian islam terhadap  atau perbaikan karakter. Sedangkankan nilai-nilai dan sikap negatif yang ditimbulkan di era milenial yaitu, malas, tidak mendalam, serba instan, tidak membumi, cenderung lemah dalam nilai-nilai kebersamaan, kegiatan gotong royong, kehangatan lingkungan dan kepedulian sosial cenderung kebarat-baratan tidan memperhatikan etika dan aturan formal, menjadi PR bersama untuk diatasi. Dengan demikian nilai-nilai pendidikan karakter di Indonesia tidak hanya mendukung sikap-sikap yang ditimbulkan di era milenial dan juga bersikap mencegah namun berani mengungkapkan pendapat tanpa ragu dan pandai bersosialisasi sebagaimana yang ditimbulkan di era milenial adalah sejalan dengan pendidikan karakter yang berkaitan dengan kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu dan gemar membaca.

Lalu bagaimana bentuk-bentuk program pendidikan yang harusnya dilakukan, era milenial pada dasarnya menggunakan ruang maya sebagai alat komunikasi, nah kedepannya pembelajaran agama dan budi pekerti seharusnya juga bisa menggunakan social media sebagai basis komunikasi, majelis-majelis ilmu mulai digaungkan dengan pola baru yang lebih kekinian atau bahasa milenialnya, kece. Para pendidik Agama juga harusnya mampu menempatkan dirinya dan mencoba meramu hal-hal apa saja yang harusnya disampaikan dalam khutbah atau ceramah pendidikan agamanya, para pendidik harusnya mampu menjembatani dirinya agar semua kalangan dan elemen mampu menerima, terkhusus kelompok milenial.

Wisma Angraeni Hamzah

Posting Komentar

0 Komentar